Bagaimana Cara Membuat Aplikasi yang Berkualitas Dengan Metode SDLC.

Hi teman-teman programmer kurang lengkap rasanya apabila kita telah membahas berbagai teknologi software dan aplikasi di blog ini akan tetapi kita belum mengetahui bagaimana cara mengembangkan software yang berkualitas dengan metode SDLC.

Semoga dengan mengetahui tahapan dan metode dalam rekayasa perangkat lunak kita semua bisa membuat software / aplikasi yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan untuk menyelesaikan berbagai masalah.

Maka dari itu setiap akan mengembangkan sebuah sistem maka pertanyaan pertama yang menurut saya penting yakni apakah dengan sistem yang kita buat dapat menyelesaikan masalah.

Pada artikel ini saya merangkum dari berbagai sumber di internet tentang pembahasan SDLC.

Apa itu SDLC?

SDLC Adalah singkatan dari System Development Live Cycle atau disebut dengan siklus hidup pengembangan sistem. SDLC siklus yang digunakan dalam pembuatan dan pengembangan sistem informasi bertujuan untuk menyelesaikan masalah secara efektif.

SDLC menjadi sebuah kerangka berisi langkah – langkah yang dilakukan untuk proses pengembangan perangkat lunak bertujuan untuk menghasilkan sistem yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Dalam rekayasa sistem dan rekayasa perangkat lunak SDLC juga digunakan untuk proses pembuatan dan pengubahan sistem serta model dan metodologi yang digunakan alam mengembangkan sebuah sistem.

Konsep ini pada umumnya merujuk pada sistem komputer atau informasi.

Adapun tahapan SDLC untuk mengembangkan perangkat lunak  adalah : Rencana (Planing), Analisis (Analysis), Desain (Design), Implementasi (implementation), Uji coba (Testing) dan pengelolaan (Maintenance).

Adapun dalam rekayasa perangkat lunak konsep SDLC  mendasari berbagai jenis metode pengembangan perangkat lunak. Metode ini menjadi kerangka kerja untuk perencanaan dan pengendalian pembuatan sebuah system informasi.

Dalam pengembangan rekayasa perangkat lunak terdapat 3 jenis metode siklus hidup sebuah sistem yang banyak digunakan yakni : traditional system life cycle siklus hidup sistem tradisional, life cycle using prototyping siklus hidup menggunakan prototype, dan object-oriented system life cycle siklus hidup sistem orientasi objek.

1. Planing (Perencanaan)

Menekankan pada studi kelayakan pengembangan sistem yang meliputi :

  • Menentukan tim pengembang
  • Menentukan tujuan ruang lingkup dari pengembangan
  • Mengidentifikasi masalah yang ada dan bisa diselesaikan dengan pengembangan sistem
  • Menentukan strategi yang digunakan dalam pengembangan sistem
  • Penentuan teknologi dan pemilihan aplikasi yang digunakan.

2. System Analysis (Analis Sistem)

Sistem akan dianalisis bagaimana dijalankan, hasil berupa kelebihan dan kekuaran sistem, fungsi, hingga update atau pembaharuan yang diterapkan.

Adapun tahap yang dilakukan pada analisis sistem sebagai berikut :

  • Mendefinisikan kebutuhan sistem
  • Analisa kebutuhan sistem serta membuat batasan-batasan sistem
  • Klasifikasi masalah, peluang serta solusi yang diterapkan
  • Studi literatur untuk menemukan suatu kasus yang bisa ditangani oleh sistem.

3.System Design (Perangangan Sistem)

Tahapan ini menghasilkan prototype dan beberapa output meliputi dokumen berisi pola serta komponen yang diperlukan untuk mewujudkan proyek tersebut. Tahap ini adalah tahap dimana semua hasil analisis dan pembahasan spesifikasi sistem diterapkan pada rancangan sebagai cetak biru (blue print) dimana sistem sudah siap dikembangkan

Pada tahap ini fitur dan operasi pada sistem dideskripsikan secara detail :

  • Merancang user interface
  • Menganalisa interaksi objek dan fungsi
  • Menganalisa data dan membuat skema database

4. System Implementation (Implementasi sistem)

Pada tahap ini adalah implementasi rancangan dari tahapan sebelumnya  serta melakukan uji coba, dalam implementasi dilakukan berbagai aktifitas sebagai berikut :

  • Pembuatan aplikasi berdasarkan desain sistem
  • Pembuatan database sesuai skema rancangan
  • Pengujian dan perbaikan aplikasi (debugging).

5. Testing dan Integration

Setelah sistem selesai dikembangkan, sebuah sistem harus melalui pengujian sebelum digunakan.

Tahapan pengujian dari sebuah sistem harus dijalankan untuk ujicoba apakah sistem dapat bekerja dengan optimal atau tidak.

Ada beberapa hal yang diperhatikan seperti kemudahan penggunakan sampai dengan tujuan rancangan sistem yang dirancang dari awal apakah sesuai dengan tujuan.

Tahapan ini bagian penting dalam rangkaian karena tidak mungkin publikasi sebuah software tanpa melalui pengujian terlebih dahulu.

6.System Maintenance (Pemeliharaan Sistem)

Dilakukan untuk menjaga sistem tetap berjalan secara benar dalam mengadaptasi diri sesuai dengan kebutuhan.

Ini merupakan bagian yang penting untuk sebagai referensi di kemudian hari, sehingga celah ataupun kerusakan yang ditemukan pada proses produksi dapat dilaporkan dan diselesaikan.

SDLC tidak hanya berakhir pada tahapan ini. Software harus dipantau untuk terus memastikan dapat berjalan dengan baik.

Selanjutnya ada banyak model pengembangan SDLC yang penting untuk membantu proses pengembangan perangkat lunak tapi disini kita membahas ada 4 yakni :

Model Pengembangan SDLC

1.Waterfall Model

Metode waterfall pertama kali diperkenalkan oleh Windows W. Royce pada tahun 1970, waterfall merupakan model klasik sederhana dengan aliran sistem yang linier output dari setiap tahap merupakan input bagi tahap berikutnya (kristanto 2004). Setiap satu tahap selesai langsung dilakukan evaluasi untuk memastikan projek berjalan sesaui rencana dan diteruskan ketahap selanjutnya. Metode ini memiliki tahap utama yakni analisis dan rekayasa sistem, perancangan, penulisan program, pengujian dan pemeliharaan.

Kelebihan :

  • Tahapan pengembangan pasti, mudah diaplikasikan dan teratur prosesya.
  • Menghasilkan software dengan kualitas yang baik
  • Setiap fase harus diselesaikan dengan lengkap sebelum melangkah ke fase berikutnya.

Kekurangan :

  • Sulit memahami perubahan kebutuhan yang diinginkan oleh pelanggantahap dari Pembagian proyek tidak fleksibel, karena komitmen dilakukan pada tahap awal
  • Perubahan yang terjadi bisa menyebabkan ditengah pengerjaan produk membat tim menjadi bingung dan menimbulkan masalah baru.

2. Model Prototype

Metode prototype adalah satu pradigma baru dalam metode pengembangan perangkat lunak dimana metode ini tidak hanya sekedar evolusi dalam dunia pengembangan perangkat lunak.

Metode ini merevolusi metode pengembangan yang lama SDLC Waterfall. Model prototyle, prototype dari perangkat lunak  yang dihasilkan kemudian dipresentasikan kepada pelanggan, dan pelanggan diberikan kesempatan untuk memberi masukan sehingga perangkat lunak dihasilkan betul dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan.

Kelebihan

  • Costumer aktif berpartisipasi dalam pengembangan sistem, sehingga mudah disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan.
  • Komunikasi baik dengan costumer dan pengembang
  • Dapat berja lebih baik untuk menentukan kebutuhan pelanggan
  • Menghemat waktu dalam pengembangan sistem
  • Penerapan mudah karena costumer mengetahui sesuai yang diharapkan

Kekurangan

  • Proses analisis yang terlalu singkat
  • Kurang fleksibel menghadapi perubahan
  • Tidak menyadari bahwa versi tersebut dibuat tanpa memperhatikan kualitas serta pemeliharaan jangka panjang.

3. Model Rapid Application Development (RAD)

RAD dalah model proses pengembangan perangkat lunak sekuensial linier yang menekankan siklus perkembangan yang pendek 60 – 90 hari. Model ini merupakan adaptasi dari model sekuensial linier, dimana pengembangan cepat dicapai dengan pendekatan konstruksi berbasis komponen.

Kelebihan

  • Efektif dalam mengasilkan sistem yang sesuai kebutuhan pelanggan
  • Cocok untuk proyek pengembangan sistem dengan waktu singkat
  • Memiliki kemampuan untuk menggunakan komponen yang ada sehingga pengembang tidak perlu buat dari awal, sehingga waktu menjadi lebih singkat.

Kekurangan

  • Bila sistem tidak dimodulkan dengan teratur, komponen penting pada RAD akan bermasalah
  • Tidak cocok bagi sistem yang memiliki resiko teknik yang tinggi
  • Membutuhkan tenaga kerja yang bannyak untuk menyelesaikan proyek skala besar.

4. Model Agile

Model pengembangan agile adalah model pengembangan jangka pendek yang memerlukan adaptasi cepat dan pengembangan terhadap perubahan dalam berbagai bentuk, ada beberapa poin penting diantarannya :

  • Pentingnya kolaborasi dengan klien daripada kontrak
  • Sikap tanggap lebih penting daripada mengikuti rencana/plan
  • Interaksi antar personal lebih penting dari proses dan alat
  • Software berfungsi lebih penting daripada dokumentasi yang lenkap.

Kelebihan

  • Software berfungsi lebih penting daripada dokumentasi yang lengkap
  • Kolaborasi dengan client penting daripada negosiasi kontrak
  • Interaksi antar personal lebih penting daripada alat
  • Sikap tanggap pebihpenting daripada mengikuti rencana/plan
  • Perubahan dengan cepat dapat ditangani
  • Functional dibuat dengan cepat kemudilan dilakukan testing

Kekurangan

  • Analisis, desain dan pengembangan sulit diprediksi
  • Bisa memunculkan premasalahan arsitektur maupun desain.

Ikuti artikel menarik lainnya :

  1. Cara Memasang Teks Editor dengan CKEditor
  2. 5 Tips Membuat Desain Website yang Menarik
  3. Tutorial Cara Membuat Tabel Responsive dengan HTML dan CSS

Referensi :

2020 Memahami system development life cycle binus.ac.id

2020 Metode dan tahapan SDLC salamadian.com

You may also like...